VERTEBRATA HAMA TEKNIK PENGENDALIAN HAMA TIKUS (Rattus argentiventer)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia tikus Rattus argentiventer dapat dikatakan sebagai salah satu hama yang memiliki dampak ekonomi lumayan tinggi, hal ini dapat disebabkan oleh daya rusak yang ditimbulkan cukup tinggi, relatif sulitnya hama ini untuk dikendalikan, serta mobilitas dan daya perkembang biakannya yang sangat cepat. Kerusakan yang ditimbulkannya pun cukup luas dan hampir disetiap musim, sehingga beberapa pakar sepakat menyatakan bahwa tikus Rattus argentiventer merupakan hama utama tanaman padi karena serangan hama tikus Rattus argentiventer ini dimulai sejak tanaman masih dipersemaian hingga tanaman siap untuk dipanen.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan hama tikus Rattus argentiventer memiliki tingkat kerusakan yang lumayan tinggi, sehingga petani tidak diam saja dalam mengendalikan serangan hama tikus Rattus argentiventer, dimana telah beberapa teknik pengendalian yang dicoba untuk mengendalikan serangan hama tikus Rattus argentiventer namun dari beberapa teknik yang telah diterapkan kesemuanya itu belum begitu mampu menekan populasi hama tikus, dikarenakan dalam mengendalikan serangan hama tikus bukan saja teknik yang diterapkan namun juga kekompakan masyarakat dan peran tokoh masyarakat untuk sama-sama mengendalikan serangan hama tikus Rattus argentiventer.
Melihat begitu besarnya kerusakan yang diakibatkan oleh serangan hama tikus Rattus argentiventer, maka diperlukannya beberapa pemahaman yang berkaitan dengan teknik serta cara pengendalian hama tikus yang dapat digunakan sebagai referensi dalam mengendalikan serangan hama tikus Rattus argentiventer.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui, teknik pengendalian serangan hama tikus Rattus argentiventer yang memiliki potensi sebagai alternatif pengendalian
2. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh teknik pengendalian serangan hama tikus Rattus argentiventer terhadap populasi hama tikus Rattus argentiventer diareal tanaman padi.

PEMBAHASAN

Tikus sawah merupakan salah satu hewan yang memiliki daya adaptasi tinggi, sehingga mudah tersebar di dataran rendah mauun dataran tinggi. Mereka suka menggali liang untuk berlindung dan berkembangbiak, membuat terowongan atau jalur sepanjang pematang dan tanggul irigasi. tikus sawah termasuk hewan pemakan segala jenis makanan. Sehingga apabila makanan disekitarnya berlimpah tikus cenderung memilih makanan yang paling disukai, seperti biji-bijian/padi yang tersedia. Pada kondisi bera, tikus sering berada di pemukiman sekitar persawahan, tikus termasuk hama yang menyerang semua stadium tanaman padi, sejak pesemaian sampai panen dan juga pada bahan simpanan. Tingkat kerusakan yang diakibatkan bervariasi tergantung stadium tanaman.
Tikus merupakan hewan yang sangat aktif dalam melakukan proses reproduksi, dimana tikus yang berumur 40 hari telah mampu melakukan proses reproduksi dengan masa kehamilan sekitar 21 hari, dan jarak antara reproduksi yang tidak begitu jauh menyebapkan cepatnya proses perkembangbiakannya, sehingga dapat dibayangkan bahwa dalam satu siklus hidupnya induk tikus mampu menghasilkan lebih dari 100 ekor tikus.
Di Indonesia tikus merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi, hal ini diakibatkan oleh daya serang dari hama tikus yang merusak sehingga menimbulkan dampak ekonomi yang lumayan besar, dilihat dari kerusakan yang ditimbulkan maka di perlukan beberapa teknik pengendalian yang dapat di gunakan dan juga sebagai referensi bagi petani, dalam mengendalikan serangan dari hama tikus banyak hal yang perlu diperhatikan agar proses pengendalian yang dilakukan tidak sia-sia dikarenakan sifat mobilitas dari hama tikus yang cepat maka diperlukan ketangkasan dari petani dalam mengendalikan hama tikus, dalam mengendalikan serangan hama tikus terdapat beberapa ternik yang digunakan oleh petani seperti pengendalian hama tikus terpadu, dengan komponen pengendalian kultur teknis, hayati, mekanis, dan kimiawi.

1. Kultur teknik
Pengendalian secara kultur teknik dapat dilakukan yaitu dengan
a. Penanaman serentak
Penanaman serempak tidak harus bersamaan waktunya, jarak antara tanam awal dan akhir maksimal 10 hari. Dengan demikian diharapkan pada hamparan sawah yang luas kondisi pertumbuhan tanaman relatif seragam. Apabila varietas yang ditanam petani berbeda, maka varietas padi yang berumur panjang sebaiknya ditanam lebih dahulu, sehingga minimal dapat mencapai panen yang serempak. Apabila penanaman serempak, maka puncak populasi tikus yang padat menjadi singkat, yaitu ketika masa generatif dan pakan tersedia, pada saat itu tikus sudah menempati areal persawahan. Padat populasi mulai turun pada 6-7 minggu setelah panen, tikus mulai meninggalkan sawah dan kembali ke tempat persembunyiannya. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi perkembangan tikus, dan sangat berlainan apabila penanaman padi tidak serempak maka akan memberi peluang tikus untuk lama tinggal di persawahan karena ketersediaan pakan akan lebih lama.

b. Ukuran pematang
Meminimalkan tempat persembunyian/tempat tinggal. Ukuran pematang sebaiknya mempunyai ketinggian sekitar 15 cm dan lebar 20 cm, pematang seperti ini tidak mendukung tikus dalam membuat sarang di sawah, sebab kurang lebar dan kurang tinggi bagi mereka, sehingga tidak nyaman. Mereka memerlukan paling tidak tinggi dan lebar pematang sekitar 30 cm. Lahan yang dibiarkan tidak diolah juga menjadi sarang yang nyaman bagi tikus untuk sembunyi. Oleh karena itu pengolahan tanah akan mempersempit peluang menjadi tempat persembunyian mereka.

c. Sanitasi.
Kebersihan sawah dan lingkungan sekitar sawah penting untuk diperhatikan, agar tikus tidak bersarang disana. Rumput, perdu, maupun belukar di sekitar sawah atau sungai dekat sawah perlu dibersihkan untuk mencegah digunakan sebagai tempat berlindung tikus sebelum melakukan invasi di sawah. Menjelang panen, populasi tikus meningkat dan mereka bersembunyi di sekitar sawah, maka tanah yang tidak ditanami akan tidak disukai mereka apabila di genangi air.

2. Hayati
Pengendalian secara hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami tikus diharapkan dapat mengurangi populasi tikus. Ular sawah sebenarnya menjadi pemangsa tikus yang handal, hanya sekarang populasinya di alam turun drastis karena ditangkap dan mungkin lingkungan tidak cocok lagi. Burung hantu Tito alba kini mulai diberdayakan di beberapa daerah untuk ikut menanggulangi hama tikus. Musang sawah juga memangsa tikus, namun sekarang sangat sedikit populasinya dan sulit dijumpai di sawah.

3. Mekanis
Banyak hal yang dapat dilakukan dalam pengendalian serangan hama tikus secara mekanis, baik dari masa pra tanam hingga masa panen, dalam hal ini terdapat beberapa cara mekanis yang dapat diterapkan untuk mengendalikan serangan hama ikus diantaranya:
a. TBS (Trap Barrier System) atau Pagar plastik dan perangkap sistem bubu.
Pesemaian merupakan awal tersedianya pakan tikus di lahan sawah, sehingga menarik tikus untuk datang. Pemasangan pagar plastik yang dikombinasikan dengan perangkap tikus dari bubu dianggap merupakan tindakan dini menanggulangi tikus sebelum populasinya meningkat. Cara ini akan lebih efektif apabila petani membuat pesemaian secara berkelompok dalam beberapa tempat saja, sehingga jumlah perangkap dan plastik sedikit.
Pemasangan perangkap TBS dapat dilakukan dengan pemilihan petakan sawah yang ukurannya kira-kira 20X50m2, pemasangan tiang bambu disetiap 1 meter bentangan pagar, sebaiknya gunakan tali atau kawat untuk menegakkan pagar plastik pada petakan, pagar perlu dibenamkan 10 cm di bawah tanah agar tikus tidak menerobos melalui bagian bawah pagar dan dipasang setinggi 60 cm untuk mencegah loncatan dari atas tanah, buatlah saluran air di bagian luar pagar dengan lebar minimal setengah meter, pasang paling sedikit 1-2 bubu perangkap pada masing-masing sisi (harus dipasang serapat mungkin dengan pagar, tanpa celah yang memungkinkan tikus masuk menerobos di luar pintu perangkap), pasang jalan masuk dengan meletakkan lumpur di depan pintu masuk perangkap

Gambar Bubu perangkap yang dipasang rapat dengan pagar plastik dan diletakkan gundukan tanah sebagai jalan masuk tikus di depan pintu perangkap.

b. Gropyokan
Gropyokan merupakan pengendalian yang sering diterapkan di pedesaan, teknik pengendalian ini biasanya menggunakan peralatan lengkap (pemukul, emposan, jaring, menggunakan anjing pelacak dan sebagainya) yang dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat yang telah terkoordinir dan terencana dalam satu hamparan pertanaman yang luas. Dan hasil yang diproleh biasanya dalam jumlah tangkapan yang lumayan banyak, hal ini disebabkan karena pengendalian secara gropyokan biasa dilakukuan secara serentak.

c. Pemasangan Jaring
Dalam teknik ini biasanya jaring dipasang pada salah satu sisi hamparan sawah, kemudian di sisi lain secara bersama-sama dilakukan penggiringan tikus dan di tepi jaring beberapa orang menunggu dengan alat pemukul. Biasanya teknik ini dilakukan oleh beberapa orang petani, dan tikus yang terjerat oleh jaring langsung dibunuh.

4. Kimiawi
a. Umpan beracun.
Cara pengendalian kimiawi dilakukan dengan menggunakan rodentisida, misalnya Ramortal, Dora, Klerat, Racumin, belerang, dan lainnya. Rodentisida yang dianjurkan sekarang adalah golongan anti koagulan yang bekerja lambat (tikus mati 2-14 hari setelah makan umpan beracun). Umumnya pelaksanaan pengendalian ini dengan memberikan umpan beracun kepada tikus. Namun sebelum dipasang umpan, perlu pemantauan tikus apakah populasinya tinggi atau belum. Tiap petakan sawah diberi sekitar 10 umpan, biasanya disediakan dulu umpan yang tidak beracun guna mengelabuhi tikus untuk tetap memakan umpan. Baru setelah beberapa lama, umpan beracun dipasang di sawah.

b. Fumigasi liang.
Tindakan ini manjur dilakukan saat padi pada stadium awal keluar malai dan pemasakan, karena merupakan stadium perkembangan optimal tikus, yaitu induk dan anaknya berada dalam liang. Pengemposan sarang perlu diperhatikan ukuran lubang dan diusahakan agar tidak terjadi kebocoran dan asap maksimal mencapai sasaran. Pengemposan dapat dilanjutkan dengan pembongkaran sarang tikus, untuk memaksimalkan hasil pengendalian.

PENUTUP

A. Kesimpulan
a. Teknik pengendalian hama tikus yang dipaparkan semuanya memiliki potensi sebagai alternatif pengendalian, namun kesemua teknik pengendalian akan sesuai apabila lokasi tempat pegendalian sesuai degan teknik yang diterapkan
b. Teknik pengendalian yang telah dipaparkan lesemuanya memiliki peran yang sama dalam mengendalikan populasi hama tikus Rattus argentiventer diareal tanaman padi.

B. Saran
Sebaiknya dalam melakukan pengandalian hama tikus, perlu adanya kerja sama antar petani serta di lakukan pengendalian sejak dini mengingat tingkat reproduksinya yang tinggi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi. Sukamandi

Anonim, 2007. Teknologi Pengendalian Tikus Spesifik Lokasi. abumutsanna.files.wordpress.com

Djoko Pramono, 2009. Permasalahan Hama Tikus dan Strategi Pengendaliannya. P3GI (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia).

Hendromuntarjo, 2008. Pengendalian Hama Tikus. Hendromuntarjo.Wordpress.Com

Sudarmaji, 1995. Penelitian pengendalian tikus dengan sistem pagar perangkap. Laporan hasil kerja sama ARMD. Balai penelitian tanaman Padi Sukamandi. 26 hlm

Suhana dkk, 2003. Teknik Pengandalian Tikus di Sawah irigasi Sukamandi. Buletin teknik Pertanian Vol. 8 Nomer 02 2003.

Wulandari 2010. Pengendalian Hama Tikus Sawah. Blogs.Unpad.ac.id

2 responses to “VERTEBRATA HAMA TEKNIK PENGENDALIAN HAMA TIKUS (Rattus argentiventer)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s