Pemanfaatan Pestisida Alternatif Dalam Mengendalikan Hama

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Penggunaan pestisida kimia dilingkungan pertanian dalam mengendalikan serangan penggangu tanaman, kini dampak yang ditimbulkan mulai terasa. Tidak dipungkiri penggunaan pestisida kimia memberikan keuntungan dari segi ekonomi bagi petani diantaranya cara pengaplikasian yang mudah, bahan yang mudah diperoleh dan efektif dalam membunuh organisme pengganggu tanaman. Namun disisi lain permasalahan yang dihadapi para petani saat ini adalah bagaimana cara mengatasi masalah OPT tersebut dengan pestisida sintetis. Di satu pihak dengan pestisida sintetis, maka kehilangan hasil akibat OPT dapat ditekan, tetapi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Di pihak lain, tanpa pestisida kimia akan sulit menekan kehilangan hasil akibat OPT. Padahal tuntutan masyarakat dunia terhadap produk pertanian menjadi bertambah tinggi terutama masyarakat negara maju, tidak jarang hasil produk pertanian kita yang siap ekspor ditolak hanya karena tidak memenuhi syarat mutu maupun kandungan residu pestisida yang melebihi ambang toleransi.

Pestisida merupakan senyawa kimia yang berfungsi untuk membunuh organisme pengganggu tanaman, baik yang berupa serangga, hewan penggerek, mikroorganisme, dan  organisme lainnya yang mengganggu tanaman. Dimana pestisida kimia memiliki peran penting dalam melindungi tanaman dari serangan organisme pengganggu, Selain keuntungan pestisida kimia juga merugikan yaitu  residu yang tertinggal didalam tanah sulit larut, meninggalkan residu pada tanaman, air dan udara, penggunaan pestisida secara terus menerus dapat memberikan dampak resistensi terhadap berbagai jenis hama dan berdampak pada kesehatan petani.

Dalam penggunaan pestisida oleh petani yang tidak bijaksana dapat menimbulkan berbagai masalah, yang mana penggunaan pestisida kimia oleh petani saat ini  dapat dikatakan telah melewati ambang kewajaran dari penggunaan yang dianjurkan, dimana waktu penggunaan yang tidak tepat, dosis yang berlebihan dan  cara penggunaan yang tidak tepat, mengakibatkan terjadinya kerusakan yang sangat parah, diantaranya yaitu terjadinya resistensi, rejurtensi, meningkatnya serangan hama sekunder, kerusahan lingkungan dan berdampak pada kesehatan manusia. Kesemua itu merupakan dampak dari penggunaan dan teknik aplikasi pertisida yang tidak tepat, menurut Hj. Ir Jeti Rachmawati.MP penggunaan pestisida di Indonesia telah memusnahkan hampir 50% serangga hama dan hampir 70% serangga yang berperan sebagai musuh alami, hal tersebut  berdampak pada putusnya rantai ekosistem dangan kata lain akan berdampak pada musnahnya keragaman fauna dalam suatu ekosistem.

Dilihat dari dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan pestisida, maka perlu dikembangkannya suatu alternatif yang mengarah pada PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dan pengendalian yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dari penggunaan pestisida kimia, adapun pestisida alternatif yang dapat digunakan dan lebih ramah lingkungan yaitu pestisida Nabati dan pestisida Hayati. Dilihat dari keuntungan dan dampat penggunaan kedua pestisida tersebut, maka sebagian ahli pestisida menganjurkan penggunaan kedua pestisida tersebut, sehingga suatu sistem pertanian yang berkelanjutan dapat diterapkan pada sistem pertanian di Indonesia yang lebih memperhatikan lingkungan yang berkesinanbungan.

Rumusan Masalah

  1. Sejauh mana manfaat yang dari penggunaan pestisida alternatif
  2. Seberapa besar potensi pengendalian yang dimiliki oleh pestisida anternatif

Tujuan

  1. Untuk mengetahui maanfaat dari penggunaan pestisida alternatif.
  2. Untuk mengetahui sejauh mana potensi pengendalian dari pestisida alternatif.

 

ISI

Pestisida Alternatif

Pestisida alternatif merupakan senyawa pestisida non sintetik yang apabila diaplikasikan cukup berpengaruh dalam mengendalikan gangguan hama dan penyakit tanaman, pestisida alternafif dimasyarakan lebih dikenal dengan nama pestisida organik dimana bahan yang digunakan dalam membuat pestisida alternatif ini lebih menggunakan senyawa non kimia sintetik (organik), diketahui pula bahwa penggunaan pestisida organik dapat menjamin keamanan ekosistem. Dengan pengaplikasian pestisida organik, hama hanya terusir dari  tanaman  petani  tanpa  membunuh.  Selain  itu  penggunaan  pestisida  organik  dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia serta pestisida alternatif bepegaruh langsung terhadap organisme pengganggu tanaman walaupun pestisda ini tidak membunuh secara langsung, biasanya dengan menghentikan nafsu makan serangga..

Pestisida organik terbagi menjadi dua jenis berdasarkan bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pertisida organik dan diketahui pula bahwa kedua jenis pestisida tersebut merupakan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan dan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan, adapun kedua jenis pertisida tersebut yaitu Pestisida Nabati dan Pestisida Hayati (Biologi).

Pestisida Nabati

Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul) dan pembunuh organisme pengganggu tanaman dan penggunaannya telah dilakukan sejak tiga abat yang lalu (Ware,1982,1983). Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai pestisida yang bahan dasar pembuatannya berasal dari tumbuhan dan pembuatan pestisida nabati relatif lebih mudah dan terbuat dari bahan alami / nabati maka jenis pestisida ini memiliki sifat mudah terurai (bio-degradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, serta relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residu yang dihasilkan mudah hilang. Menurut Prof. Ir. I Made Sudantha, bahwa pestisda nabati memiliki sifat yang apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu juga dan residunya akan menghilang di alam bersamaan dengan matinya hama. Dengan demikian, tanaman yang diaplikasikan akan terbebas dari residu pestisida dan aman untuk dikomsumsi.

Dalam penggunaan pestisida nabati bukan untuk meninggalkan penggunaaan pestisida sintetik (kimia) namun dimaksudkan sebagai alternatif dengan tujuan agar penggunaan pestisida kimia dapat diminimalkan sehingga kerusakan lingkungan yang dihasilkan oleh pestisida sintetik dapat dikurangi, sehingga terciptanya suatu lingkungan yang bebas akan kerusakan lingkungan dan pencemaran pestisida sintetik, yang dapat dikatakan saat ini telah merusak ekosistem pertnian di Indonesia, dalam pengaplikasian dilapangan penggunaan pestisida nabati mampu mengendalikan dan mengurangi kerusakan dan kerugian akibat serangan hama tanaman.

 Pestisida Hayati (Biologi)

Pestisida hayati atau biologi merupakan pestisida yang berasal dari mahkluk hidup dimana bahan yang digunakan dalam pembuatan pestisida ini diantaranya yaitu jamur, virus dan bakteri yang bermanfaat dalam menekan populasi organisme pengganggu tanaman. Perhatian para pakar akan pengendalian hayati mulai bangkit kembali setelah lebih dari 20 tahun terhenti, ketika dilakukannya simposium internasional pengendalian hayati dengan tema “Ecology of Soilborne Plant Pathogen-Prelude to Biological Control” pada tahun 1963 di barkley

Dalam ekosistem banyak sekali organisme yang berfungsi sebagai pengendali hayati seperti Virus Nuklear Polyhedrosis (NVP) yang mampu menekan populasi hama Spodoptera exigua, dengan menginfeksi alat pencernaan hama Spodoptera selain itu ada jamur seperti Trichoderma Sp, yang mmpu menekan populasi jamur Fusarium sehingga pertumbuhan jamur Fusarium sp terhambat.

Secara keseluruhan habitat hidup mikroorganisme yang banyak berperan di dalam pengendalian hayati adalah di dalam tanah disekitar akar tumbuhan (rizosfir) atau  di atas daun, batang, bunga, dan buah. Mikroorganisme yang bisa hidup pada daerah rizosfir sangat sesuai digunakan sebagai agen pengendalian hayati ini mengingat bahwa rizosfir adalah daerah utama dimana akar tumbuhan terbuka terhadap serangan patogen. Jika terdapat mikroorganisme antagonis pada daerah ini patogen akan terhambat penyebarannya. Keadaan ini disebut hambatan alamiah mikroba dan jarang dijumpai, rnikroba antagonis ini sangat potensial dikembangkan sebagai agen pengendalian hayati (Weller 1988).

PENUTUP

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari paper ini yaitu:

  1. Penggunaan pestisida alternatif yaitu pestisida Nabati dan Hayati (Biologi) memberikan manfaat dalam proses pengendalian organisme pengganggu tanaman.
  2. Pestisida alternatif dalam hal ini pestisida Nabati dan Hayati (Biologi) perlu dikembangkan karena pestisida alternatif tersebut memiliki potensi sebagai pengendalian hama terpadu (PHT), dalam menekan, membunuh dan mencegah melonjaknya organisme penggangu tanaman serta pemenfaatan pestisida alternatif mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pertisida sitetik.

Saran

Perlu adanya penelitian lebih lanjut terhadap potensi dari pestisida alternatif dikarenakan masih banyak bahan-bahan dari alam yang dapat dikembangkan sebagai pestisida aternatif. Selain itu diperlukan penyampaian kepada masyarakat akan dampak dari pestisida sintetik dan manfaat dari pestisida Alternatif (Nabati dan Hayati).

Tak lupa saran dari bapak dosen (Prof. Ir.M. Sarjan, M.Ag.CP.Ph.D) dan rekan-rekan  yang berkenaan dengan tulisan ini sangat diharapkan guna menambah wawasan dan cakrawala berpikir serta melengkapi berbagai kekurangan yang ada dalam tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Buku pedoman pelatihan permakultur No.09 pengendalian hama terpadu (PHT).

Budi Setyono Agus 2009. Kajian Pestisida Terhadap Lingkungan Dan Kesehatan Serta Alternatif Solusinya. I Perusahaan Pestisida Organik Nasa.

Hasanuddin, 2003. Peningkatan Peranan Mikroorganisme Dalam Sistem Pengendalian Hama Terpadu. Universitas Sumatra Utara.Medan.

http://litbang.deptan.Go.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=22&itemid=8

http://kms.ipb.ac.id/userspace/download.php?id=k/m/kmutaqin/687700f7

http://www.google.com/search/Pestisida_alternatif

http://www.google.com/search/Pestisida_Hayati.

http://www.google.com/search/Pestisida_Nabati.

http://www.tanindo.com

Subiyanto.  2005.  Pestisida  Nabati:  Pembuatan dan  Pemanfaatannya. Kanisius. Yokyakarta.

Sudantha. 2009. Petunjuk Praktikum Pestisida dan Teknik Aplikasi. Universitas Mataram. Mataram.

Ware, 1982-1983. Dalam Subiyakti, 2009. Ekstrak Biji Mimba Sebagai Pestisida Nabati: Potensi, Kendala, dan  Strategi Pengembangannya. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat.Malang

Weller, D.M. 1988. Dalam Hasanuddin, 2003. Peningkatan Peranan Mikroorganisme Dalam Sistem Pengendalian Hama Terpadu. Universitas Sumatra Utara. Medan.

3 responses to “Pemanfaatan Pestisida Alternatif Dalam Mengendalikan Hama

  1. Ping-balik: APA ITU PESTISIDA HAYATI DAN APA SAJA MANFAATNYA? | PERHIMPUNAN ENTOMOLOGI INDONESIA – PERHIMPUNAN FITOPATOLOGI INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s