Antagonisme Jamur Trichoderma sp Dalam Mengendalikan Jamur Patogen Phytophthora infestans Penyebab Penyakit Umbi Tanaman Kentang

Latar Belakang

Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) hingga saat ini masih merupakan masalah utama yang membatasi produksi terutama untuk daerah-daerah yang mempunyai iklim tropis. Sementara, penggunaan pestisida kimia dalam mengendalikan OPT mempunyai resiko yang besar karena dapat menyebabkan reistensi, resurgensi, pencemaran lingkungan, musnahnya musuh alami, timbulnya residu pestisida dalam tanaman dan sebagainya. Dengan pengendalial secara hayati diharapkan dapat memberikan efek positif serta mengurangi efek samping dari penggunaan pestisida dalam mengendalikan serangan organisme penggang tanaman. Pengendalian organisme pengganggu tanaman baik itu hama, patogen maupun gulma, telah digunakan sejak lama, dimana untuk pengendalian hayati khususnya pada pcnyakit tumbuhan dengan menggunakan mikroorganisme telah dimulai sejak lebih dari 70 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1920 sampai 1930 ketika pertama kali diperkenalkan antibiotik yang dihasilkan mikroorganisme tanah, tetapi beberapa percobaan belum berhasil sampai penelitian mengenai pengendalian hayati terhenti selama kurang lebih 20 tahun. Perhatian pakar penyakit tumbuhan terhadap metoda pengendalian hayati bangkit kembali ketika di Barkley pada tahun 1963 diadakan simposium internasional pengendalian hayati dengan.tema “Ecology of Soilborne Plant Pathogen-Prelude to Biological Control”, Buku pertama tentang pengendalian hayati terbit pada tahun 1974 oleh Baker dan Cook dengan judul “Biological Control of Plant Pathogens”, satu panitia untuk pengendalian hayati pada American Phytopathological Society kemudian didirikan pada tahun 1976. Sekarang ini sudah menjadi satu pengetahuan bahwa pengendalian hayati akan memainkan peranan penting dalam pertanian pada masa akan datang. Ini terutama disebabkan kekhawatiran terhadap bahaya penggunaan bahan kimia sebagai pestisida. Sejumlah mikroba telah dilaporkan dalam berbagai penelitian efektif sebagai agen pengendalian hayati hama dan penyakit tumbuhan diantaranya adalah dari genus-genus Agrobacterium, Ampelomyces, Arthrobotys, Ascocoryne, Bacilllls, Bdellovibrio, Chaetomium, Cladosporium, Coniothyrium, Dactylella, Endothia, Erwinia, Fusarium, Gliocladium, Hansfordia, Laetisaria, Myrothecium, Nematophthora, Penicillium, Peniophora, Phialophora, Pseudomonas, Pythium, Scytalidium, Sporidesminium, Sphaerellopsiss, Trichoderma, dan Verticillium (Hasanuddin, 2003).

Trichoderma spp. merupakan jamur antagonis yang sangat penting untuk pengendalian hayati Mekanisme pengendalian Trichoderma spp. yang bersifat spesifik target, mengoloni rhizosfer dengan cepat dan melindungi akar dari serangan jamur patogen, mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil produksi tanaman, menjadi keunggulan lain sebagai agen pengendali hayati. Aplikasi dapat dilakukan melalui tanah secara langsung. Selain itu Trichoderma spp sebagai jasad antagonis mudah dibiakkan secara massal dan mudah disimpan dalam waktu lama (Arwiyanto, 2003). Penyakit busuk umbi tanaman kentang oleh jamur patogen Phytophthorainfestans sejak lama menjadi masalah bagi para petani kentang dan penyakit ini merupakan penyakit yang paling serius di antara penyakit dan hama yang menyerang tanaman kentang di Indonesia (Katayama & Teramoto, 1997). Penyakit ini tergolong sangat penting karena kemampuannya yang tinggi merusak jaringan tanaman. Sampai saat ini patogen penyebab penyakit busuk umbi kentang tersebut masih merupakan masalah krusial dan belum ada varietas kentang yang benar-benar tahan terhadap penyakit tersebut (Cholil, 1991).

Berdasarkan potensi yang dimiliki Trichoderma spp. maka pemanfaatan jamur tersebut sebagai agen hayati untuk pengendalian jamur patogen Phytophthora infestans pada tanaman kentang yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan sangatlah penting di dalam menunjang program PHT. Oleh karena itu penggunaan Trichoderma spp sebagai agen pengendali hayati diharapkan dapat mengurangi ketergantungan dan dampak  negatif dari penggunaan  pestisida kimia dalam mengendalikan penyakit busuk umbi tanaman kentang.

Biologi Trichoderma Sp

Trichoderma merupakan jamur inperfekti (tak sempurna) dari Subdivisi Deuteromycotina, Kelas Hyphomycetes, Ordo Moniliaceae. Konidiofor tegak, bercabang banyak, agak berbentuk kerucut, dapat membentuk klamidospora, pada umumnya koloni dalam biakan tumbuh dengan cepat, berwarna putih sampai hijau (Cook and Baker, 1989). Bentuk Sempurna dari jamur ini secara umum dikenal sebagai Hipocreales atau kadang-kadang Eurotiales, Clacipitales dan Spheriales. Spesies dalam satu kelompok yang sama dari Trichoderma dapat menunjukkan spesies yang berbeda pada Hypocrea sebagai anamorf. Hal ini dimungkinkan karena terdapat banyak perbedaan bentuk seksual dari Trichoderma, sebagai contoh misalnya pada T. harzianum dapat menunjukkan enam perbedaan bentuk seksual yang masing-masing bentuk ini menunjukkan anamorf yang berbeda (Chet, 1987).

 

 


Potensi dan Mekanisme Antagonistik Trichoderma Sp.

Diketahui bahwa beberapa spesies Trichoderma mampu menghasilkan metabolit gliotoksin dan viridin sebagai antibiotik dan beberapa spesies juga diketahui dapat mengeluarkan enzim b1,3-glukanase dan kitinase yang menyebabkan eksolisis pada hifa inangnya, namun proses yang terpenting yaitu kemampuan mikoparasit dan persaingannya yang kuat dengan patogen  (Chet, 1987). Beberapa penelitian yang telah dilakukan, Trichoderma Sp memiliki peran antagonisme terhdap beberapa patogen tular tanah yang berperan sebagai mikoparasit terhadap beberapa tanaman inang. Chet (1987), berpendapat bahwa bahwa mikoparasitisme dari Trichoderma Sp. merupakan suatu proses yang kompleks dan terdiri dari beberapa tahap dalam menyerang inangnya. Interaksi awal dari Trichoderma Sp. yaitu dengan cara hifanya membelok ke arah jamur inang yang diserangnya, Ini menunjukkan adanya fenomena respon kemotropik pada Trichoderma Sp. karena adanya rangsangan dari hyfa inang ataupun senyawa kimia yang dikeluarkan oleh jamur inang. Ketika mikoparasit itu mencapai inangnya, hifanya kemudian membelit atau menghimpit hifa inang tersebut dengan membentuk struktur seperti kait (hook-like structure), mikoparasit ini juka terkadang mempenetrasi miselium inang dengan mendegradasi sebagian dinding sel inang.

 

Peran Jamur Trichoderma Sp dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Phytophthora infestans pada Tanaman Kentang

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwantisari S (2009), menunjukkan bahwa jamur Trichoderma Sp memiliki kemampuan dalam menekan populasi jamur Phytophthora infestans, dimana hasil uji laboratorium secara In Vitro dilakukan dengan metode dual method pada médium PDA dalam cawan petri berdiameter 10 cm. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mekanisme penghambatan yang terjadi pada uji antagonisme yaitu secara antibiosis dan hiperparasit yang dapat diamati dengan terbentuknya zona bening sebagai zona penghambatan pertumbuhan bagi Phytophthora infestans, munculnya zona bening ini menunjukkan trejadinya proses antibiosis yang dilakukan oleh jamur Trichoderma Sp terhadap jamur Phytophthora infestans dan pertumbuhan miselium Trichoderma sp yang menutupi seluruh permukaan medium termasuk koloni Phytophthora infestans secara hiperparasit. Sehingga jamur Trichoderma sp dapat dikatakan merupakan salah satu jamur antagonis yang menunjukkan kemampuannya dalam uji antagonisme secara in vitro dalam mengendalikan pertumbuhan  jamur patogen P. infestans penyebab penyakit busuk daun umbi kentang.

Hawker (1950), menyatakan bahwa adanya kompetisi ruang dan makanan pada kedua jamur yang saling berinteraksi menyebabkan pertumbuhan salah satu jamur terdesak disepanjang tepi koloninya, sehingga pertumbuhannya akan ke atas tidak menyamping. Adanya hambatan perkembangan pertumbuhan koloni jamur pathogen P. infestans oleh jamur antagonis spesifik lokasi Trichoderma sp. disebabkan karena pertumbuhan koloni jamur antagonis Trichoderma sp. jauh lebih cepat dibanding jamur pathogen P. infestans. Hal ini didukung oleh pernyataan Golfarb et al. (1989). Dalam Suharna & Widhyastuti (1966), bahwa jamur yang tumbuh cepat mampu mengungguli dalam penguasaan ruang dan pada akhirnya bisa menekan pertumbuhan jamur lawannya. Selain itu diduga karena selulase yang dimiliki oleh jamur antagonis Trichoderma sp. akan merusak dinding sel selulosa jamur pathogen P. infestans. Sesuai dengan pernyataan Salma dan Gunarto (1999) bahwa Trichoderma sp. Mampu menghasilkan selulase untuk menguraikan selulosa menjadi glukosa. Selulosa merupakan komponen utama penyusun dinding sel jamur pathogen P. Infestans.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Chet,I (Ed.), 1987. Innovative Approaches to Plant Diseases Control. John Wiley and Sons, A Wiley-Interscience Publication, USA. (Google terjemahan, di browsing tanggal 07 Desember 2010).

 

Cholil, A dan Latief Abadi. 1991. Penyakit-penyakit penting tanaman pangan. Pendidikan Program Diploma Satu Pengendalian Hama Terpadu. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

 

Cook, R. J. and K. F. Baker, 1989. The Nature on Practice of Biological Control of Plant Pathogens. ABS press, The American Phytopathological Society, St. Paul. (Google terjemahan, di browsing tanggal 12 Desember 2010).

 

Hasanuddin, 2003.  Peningkatan Peranan Mikroorganisme Dalam Sistem Pengendalian Penyakit Tumbuhan Secara Terpadu, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.

 

Hawker (1950) dalam Purwantisari Susiana dkk, 2009. Uji Antagonisme Jamur Patogen Phytophthora infestans Penyebab Penyakit Busuk Daun dan Umbi Tanaman Kentang Dengan Menggunakan Trichoderma spp. Isolat Lokal. (Jurnal BIOMA, 2009 Vol. 11, No.1, Hal. 24-32).

 

Katayama, Katsumi, dan Teramoto, Takeshi. 1997. Seed Potato Production and Control of Insect Pest and Diseases in Indonesia, dalam Purwantisari Susiana dkk, 2009. Uji Antagonisme Jamur Patogen Phytophthora infestans Penyebab Penyakit Busuk Daun dan Umbi Tanaman Kentang Dengan Menggunakan Trichoderma spp. Isolat Lokal. (Jurnal BIOMA, 2009 Vol. 11, No.1, Hal. 24-32).

 

Purwantisari Susiana dkk, 2009. Uji Antagonisme Jamur Patogen Phytophthora infestans Penyebab Penyakit Busuk Daun dan Umbi Tanaman Kentang Dengan Menggunakan Trichoderma spp. Isolat Lokal. (Jurnal BIOMA, 2009 Vol. 11, No.1, Hal. 24-32).

 

Salma, S dan L. Gunarto. 1999. Enzim Selulase dari Trichoderma spp. Buletin AgriBio Vol. (2) No. 2. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor.

 

Suharna & Widhyastuti (1966) dalam Purwantisari Susiana dkk, 2009. Uji Antagonisme Jamur Patogen Phytophthora infestans Penyebab Penyakit Busuk Daun dan Umbi Tanaman Kentang Dengan Menggunakan Trichoderma spp. Isolat Lokal. (Jurnal BIOMA, 2009 Vol. 11, No.1, Hal. 24-32).

3 responses to “Antagonisme Jamur Trichoderma sp Dalam Mengendalikan Jamur Patogen Phytophthora infestans Penyebab Penyakit Umbi Tanaman Kentang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s