PENGENDALIAN NEMATODA BENGKAK AKAR PADA TANAMAN KRISAN (MELOIDOGYNE) DENGAN BANTUAN BACILLUS PENETRANS SEBAGAI BIOAGENSIA HAYATI

Oleh: Salahuddin Adi Kelana, Rina Noviana, Rina Rosdiana

Mahasiswa HPT,Universitas Mataram

Nematoda merupakan masalah yang dihadapi oleh petani didalam melakukan budidaya tanaman, dan banyak sekali upaya yang dilakukan untuk menekan dan mengendalikan nematoda parasit tumbuhan salah satunya yaitu dengan melakukan pengendalian secara hayati. Banyak sekali nematoda yang menyerang tumbuhan dan salah satunya yaitu Nematoda Bengkak Akar (Meloidogyne spp.) merupakan kendala produksi dalam budidaya krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev). Pengendalian yang dilakukan selama ini ialah dengan menggunakan bahan kimia sintetik yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya alternatif pengendalian yang ramah lingkungan, murah dan mudah diaplikasikan. Di dalam penelitian ini cendawan Paecilomyces lilacinus digunakan sebagai agen pengendali hayati Meloidogyne spp. yang diaplikasikan dalam berbagai formula.

Selain itu di ketahui pula bahwa nematoda ini menimbulkan Kerugian akibat serangan Meloidogyne spp. dapat berlipat ganda oleh pengaruh fenomena sinergisme dengan fungi dan bakteri. Dalam beberapa kasus diketahui bahwa Meloidogyne spp. dapat berperan sebagai faktor predisposisi yang mengawali terjadinya infeksi Fusarium oxysporum dan Pseudomonas solanacearum pada tanaman tomat. Oleh karena itu kehadiran Meloidogyne spp. di lahan sentra produksi tanaman hias perlu diwaspadai.

Sejauh ini petani dan pengusaha tanaman hias menggunakan nematisida untuk mengendalikan Meloidogyne spp. Nematisida umumnya digunakan sebagai soil sterilant (fumigan) yang diaplikasikan sebelum tanam maupun pelindung tanaman (senyawa kontak dan sistemik) yang diberikan saat tanaman ditanam. Dengan penggunaan nematisida yang berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya resisgensi dan kerusakan lingkungan maka dari pada itu banyak ahli yang melakukan penelitian guna memperoleh agensia hayati yang berpengaruh dalam menekan penkembangan populasi nematoda.

Maka dari pada itu dari berbagai penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa beberapa agen hayati dapat mengendalikan populasi nematoda hingga di bawah ambang kendali. Mankau dan Prasad (1977) melaporkan bahwa Bacillus penetrans efektif menekan populasi Meloidogyne spp. hingga di bawah 50%. Spora Bacillus penetrans menempel pada kutikula larva, betina, dewasa dan telur Meloidogyne spp. dan memparasit hingga nematoda tersebut mati. Pada satu larva ditemukan lebih dari 250 spora. Dalam kondisi yang optimal, laju multiplikasi B. penetrans mencapai ribuan kali lipat, sehingga kurang dari 48 jam mampu membunuh larva Meloidogyne spp. Mikroorganisme lain yang efektif sebagai musuh alami Meloidogyne spp. yaitu Dactilella sp., Dactylaria sp., Artrobotrys sp., dan Botrytis sp. Semua spesies tersebut mampu membentuk hifa perangkap yang dapat menangkap larva nematoda setiap saat di daerah rhizosfer. Akhir-akhir ini banyak penelitian ditujukan pada fungi oportunistik untuk mengendalikan nematoda. Fungi tersebut antara lain Fusarium, Verticillium, Aspergillus, Penicillium dan Paecilomyces, yang mudah ditemukan di dalam tanah dengan kandungan bahan organik yang cukup tinggi. Sejauh ini keefektifan fungi oportunistik dalam mengendalikan nematoda telah banyak di laporkan.

Mekanisme pengendalian diduga akibat pengaruh toksin yang dihasilkan fungi yang berpengaruh negatif terhadap kehidupan nematoda parasit. Namun peneliti lain membuktikan bahwa fungi oportunistik dapat mengkolonisasi nematoda betina sebelum nematoda tersebut bertelur. Sehingga mampu menekan populasi nematoda parasit tumbuhan. Diantara mikroflora yang tumbuh di alam indonesia ada yang potensial sebagai agen hayati untuk mengendalikan Meloidogyne spp. pemanfaatan agen hayati dalam industri florikultura perlu dikembangkan untuk memecahkan masalah nematoda, sekaligus mengurangi ketergantungan penggunaan bahan kimia yang berarti akan mengurangi biaya produksi, menghindari pencemaran lingkungan dan menjamin kelangsungan sistem produksi florikultura yang sesuai dengan tuntutan masyarakat global.

Secara alami mikroflora berperan secara aktif dalam dinamika populasi nematoda parasit. Hal ini terjadi pada ekosistem yang seimbang. Di dalam ekosistem pertanian, dimana manusia sering melakukan perubahan lingkungan, peran musuh alami menjadi terabaikan. Untuk meningkatkan peran musuh alami dalam pengendalian populasi nematoda parasit, maka dibutuhkan upaya inundasi isolat-isolat yang terbukti efektif ke dalam ekosistem pertanian.

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s