METODE PENANGKAPAN SPESIMEN SERANGGA

Serangga merupakan golongan hewan yang jumlahnya melebihi jumlah hewan yang hidup didarat, dan praktis terdapat dimana-mana serta menempati beberpa habitat yang berbeda-beda. Dalam melakukan penangkapan guna mengoleksi serangga biasanya seorang koektor serangga perlu mengetahui habitat dan kebiasaan hidup serangga sehingga dapat menentukan metode yang bisa digunakan dalam menangkap serangga, adapun metode-metode yang dapat digunakan dalam menangkap serangga antara lain sebagai berikut:

Direct Sweeping
Teknik ini merupakan yang paling umum dan sering dilakukan oleh para kolektor untuk mencari dan mengumpulkan serangga. Peralatan yang digunakan sederhana. Selain peralatan dasar, peralatan tambahan yang digunakan cukup dengan menggunakan jaring serangga. Pengumpulan serangga dilakukan dengan cara menangkap langsung serangga-serangga dengan bantuan jaring. Metode pengamatan yang dilakukan mencakup metode transek baik mengikuti jalur maupun transek garis. Namun lebih sering digunakan metode transek jalur karena menyesuaikan dengan serangga yang memiliki mobilitas tinggi.

Teknik Jebakan (Trapping)
Jebakan merupakan sebuah metode yang mampu menghalangi dan menghentikan pergerakan organisme. Metode jebakan sangat sering digunakan secara intensif dalam entomologi dengan menggunakan perangkat peralatan tertentu baik dengan umpan ataupun tidak maupun dengan atraktan. Bentuk maupun mekanisme jebakan bergantung dari pengetahuan kita tentang perilaku, makanan, maupun habitat serangga. Beberapa modifikasi banyak dilakukan oleh kolektor mengacu pada pertimbangan dasar ini. Hanya sedikit metode jebakan yang akan dijelaskan disini antara lain yaitu:

Windowpane Trap
Sederhana dan tidak terlalu mahal, peralatan yang digunakan yaitu sebuah barir (penghalang) yang dibuat dari pegangan kaca jendela atau lainnya kemudian ditaruh tegak lurus di atas tanah atau digantungkan. Bagian bawah dari jebakanini disimpan bak penampung yang diisi dengan cairan pembunuh seperti alkohol atau lainnya sehingga ketika serangga-serangga terbang menuju kaca penghalang akan jatuh menuju bak dan mati. Serangga-serangga yang terkumpul dalam bak segera dicuci bersih dengan alkohol atau dikeringkan lalu diawetkan segera agar tidak rusak. Jenis metode jebakan ini kurang cocok untuk mengumpulkan jenis Lepidoptera dewasa ataupun serangga-serangga lainnya yang rusak apabila dikoleksi dalam cairan.

Interception Nets and Barriers
Lembaran jaring setinggi 1.8 meter dapat dibentangkan diantara tiga pohon atau patok sehingga membentuk huruf V dimana ujung yang melebar terbuka. Teknik ini dapat menjerat banyak jenis serangga-serangga terbang. Terutama bila jebakan dikombinasikan dengan menanamkan lampu/sumber cahaya yang menghadap pada sisi V yang terbuka dan disesuaikan dengan arah angin dimana bagian yangterbuka harus berlawanan dengan arah angin.

Malaise Trap
Merupakan modifikasi dari jenis Interception Nets yang lebih kompleks, didesain oleh seorang Entomologis asal Swedia bernama Rene Malaise. Perangkat jebakanini terdiri dari empat buah jaring vertikal yang dibentangkan pada sumbu yang sama masing-masing membentuk sudut 90 derajat satu sama lainnya. Bagian atasnya ditutup oleh kain yang berbentuk segiempat yang disesuaikan sedemikian rupa sehingga menuju pada satu outlet tabung pengumpul yang diletakkan pada ujung bagian atas tiang pada sumbu utama. Tabung pengumpul dapat diberikan cairan pembunuh ataupun atraktan, bergantung kebutuhan kolektor. Perangkap jebakan ini bekerja dengan mekanisme menjebak serangga-serangga yangcenderung bergerak ke atas pada satu outlet tabung pengumpul, dimana desain dari tabung pengumpul dibuat sedemikian rupa sehingga serangga-serangga dapat masuk namun tidak bias keluar dari tabung tersebut.

Pittfall Trap
Jenis perangkat yang cukup sederhana namun efektif dan sangat berguna untuk menjerat serangga. Terdiri dari piring atau baskom kecil, kaleng atau bak kecil. Perangkat jebakan dibenamkan di dalam tanah dimana permukaan tanah sejajar dengan ujung atas bibir kaleng/bak yang berisi cairan alkohol atau etilen glikol sebagai agen pembunuh. Etilon glikol lebih banyak digunakan oleh kolektor karena tidak menguap seperti alkohol. bagian atas perangkat jebakan harusditutup dengan sebuah cover atau pelindung lainnya untuk mencegah masuknya air hujan maupun vertebrata kecil jatuh ke sumur jebakan.

Light Traps
Light Trap atau perangkap cahaya pada dasarnya digunakan berdasarkan perilaku kebanyakan serangga yang tertarik akan sumber cahaya. Dapat digunakan pada berbagai panjang gelombang cahaya sebagai agen atraktan. Jenis-jenis variasi perangkat jebakan ini dapat dilengkapi dengan menggunakan corong yang mengarahkan pada bak pengumpulan koleksi. Corong atau bak penampung dapat dibuat dari metal, plastik, kayu atau Hard paper. Perangkat jebakan dapat dipasang dengan atau tanpa pelindung. Namun, jika digunakan untuk beberapa hari pelindung diperlukan untuk mencegah air hujan masuk. Pelindung bisa menggunakan bahan apa saja yang kuat dan kedap air.

Necrobia spp Hama bahan simpanan kopra

Necrobia spp merupakan salah satu spesies hama bahan simpanan yang harus di waspadai, adapun bahan simpanan yang sering di serang oleh hama spesies ini adalah hasil kopra yang biasa di simpan pada gudang dan merupakan salah satu hama penting pada bahan kopra. Biasanya pada fase larva hama ini lebih aktif dan banyak memakan bahan kopra yang di simpan pada gudang

(Gambar Necrobia Rufipes)

Sistematika

Adapun sistematika dari spesies ini adalah :

 Kingdom : Animalia
 Filum: Arthopoda
 Kelas: Insekta
 Ordo: Coleoptera
 Famili : cloridae
 Genus : necrobea
 Spesies : necrobia spp

Cara Hidup

1. Spesies Necrobea memiliki Elytron yang berwarna biru ajak ungu, dan kadang-kadang terdapat pula yang berwarna biru agak hehijauan, berbulu agak kasar.
2. Betina bertelur hingga 30 telur per harinya di dalam retakan atau celah daging buah kopra yang terluka. Telur membutuhkan antara empat dan enam hari untuk menetas.
3. Larva akan tumbuh selama 30 hingga 140 hari, menjadi kurang aktif dan mencari tempat yang gelap untuk menjadi kepompong.
4. Tahapan kepompong bervariasi antara 6 dan 21 hari.
5. Kumbang dewasa akan segera kawin setelah tumbuh dari tahapan kepompongnya dan dapat hidup hingga 14 bulan.
6. Kumbang dewasa biasanya terbang dan karena itu dapat dengan mudah menemukan sumber makanan yang baru.
7. Hama spesies ini bersifat merusak, baik dalam tahap larva maupun dewasa, meski demikian tahap larva adalah yang paling merusak di karenakan pada tahan larva sumber makanan yang di proleh masih dari satu sumber makanan .
8. Hama spesies ini merupakan kanibal biasanya memakan telur dan kepompong mereka sendiri sehingga jumlah populasinya dapat di minimalisis melalui hkum alam

Gejala Serangan

1. Serangga ini sangat aktif di dalam melakukan pengrusakan produk kopra baik siang maupun malam dan pulihannya tertuju pada produk kopra yang mutunya kurang
2. Biasanya larva memakan produk kopra sehingga terbentuk celah-celah dan lubang-lubang pada danging kopra bagaikan saluran kecil yang bercabang
3. Sedangkan hama yang sempat keluar dari lubang gerakannya akan memangsa larva yang ada di permukaan kulit daging
4. Selain itu larva sebelum atau menjelang saat menjaid pupa membentuk rongga-rongga yang berbentuk lonjong dan larva yang tarakhir membentuk lubang-lubang kecil yang di peruntukan keluarnya imago. Dan lung dan tonjolan tersebut di lapisi oleh benang yang terbentuk dari air liur.

Cara Pengendalian`

Untuk hama gudang spesies ini serngannya dapat dicegah dengan tindakan-tindakan preventif seperti :

1. Memilih buah kelapa yang benar-benar sudah tua sebagai bahan baku kopra, dan juga melakukan pengeringan yang sempurna serta merata terhadap daging- daging buah pilihan tadi, sehingga serangan hama spesies Necrobia dapat di minimalisir.
2. Mempehatikan agar ruang tempat penyimpanan hasil kopra selalu bersih dan kering serta terpisah ( tidak tercampur ) dengan produk hasil panen lainnya, cara ini juga dapat meminimalisir serangan dari spesies Necrobea.
3. Selain dua cara pengendalian tersebut, perlu di ingat pula bahwa hama spesies Necrobea merupakan kanibalisme sehingga sedikit menguntungkan dalam mengendalikan hama ini.

TUGAS PRAKTIKUM OPT

BAHAN YANG HARUS DI SIAPKAN OLEH SETIAP PRAKTIKAN

GELOMBANG 1

Kelompok 1
Cyperus Monocephalus
Digitaria Sanguinalis

Kelompok 2
Eichhornia sp
Marsilea Crenata

Kelompok 3
Amaranthus spinosus L
Phllanthus Ninuri.

Kelompok 4
Eichhornia sp
Amaranthus spinosus L

Kelompok 5
Cyperus Monocephalus
Marsilea Crenata

Kelompok 6
Digitaria Sanguinalis
Phllanthus Ninuri.

GELOMBANG 2

Kelompok 7
Amaranthus spinosus L
Cyperus Monocephalus

Kelompok 8
Eichhornia sp
Digitaria Sanguinalis

Kelompok 9
Phllanthus Ninuri.
Marsilea Crenata

Kelompok 10
Cyperus Monocephalus
Digitaria Sanguinalis

Kelompok 11
Eichhornia sp
Marsilea Crenata

Kelompok 12
Amaranthus spinosus L
Phllanthus Ninuri.

Cat: masing-masing praktikan membawa dua spesies gulma yang telah tercantum diatas sesuai dengan kelompoknya
(Bahan yang tercantum sebagai tiket masuk selain laporan)

TTD

Co Ass
Praktikum OPT

Tugas Komunikasi “PENDEKATAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI”

Menurut Goldhaber (1990), yang namanya organisasi sekurang-kurangnya meliputi empat pendekatan yaitu: pendekatan ilmiah, pendekatan hubungan antarmanusia, pendekatan sistem dan pendekatan budaya, sedangkan menurut Mulyana (2011), menyatakan bahwa pendekatan dalam suatu organisasi meliputi empat pendekatan yaitu: Pendekatan Struktur dan fungsi organisasi, pendekatan hubungan masyarakat, pendekatan komunikasi sebagai proses pengorganisasian dan pendekatan organisasi secara kultur. Pendapat-pendapat diatas memiliki kesamaan, yang pada intinya lebih menekankan proses pendekatan dalam suatu organisasi.

  1. Pendekatan Ilmiah

Pendakatan ilmiah menggap bahwa organisasi harus menggunakan metode-metode ilmiah dalam meningkatkan produktivitas. Studi pengendalian secara ilmiah akan memudahkan sebuah organisasi mengindentifikasi cara-cara atau alat untuk meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya akan meningkatkan keuntungan. Pendekatan manajemen ilmiah ini dipelipori oleh Frederick W. Taylor sebagaimana ditulisan dalam bukunya “ Scientific management (1911)” Jenis penelitian yang lebih mencirikan manajemen ilmiah adalah studi waktu dan gerak. Studi ini lebih menekankan tentang penghematan waktu dalam menyelesaikan tugas tertentu dalam sebuah organisasi. Taylor melakukan studi waktu dan gerak untuk pekerja menyekop batubara, kemudian dia menganalisis dan membandingkan berbagai ukuran skop serta tugas yang harus diselesaikan. Implikasinya adalah mampu jumlah pekerja yang dibutuhkan.

B. Pendekatan Hubungan Antar Manusia

Pendekatan hubungan manusia berkembang sebagai reaksi terhadap perhatian ekslusif ekslusif faktor fisik dalam mengukur keberhasilan organisasi. Salah satu asumsi dasar dari pendekatan hubungan antarmanusia adalah kenaikan kepuasan kerja akan mengakibatkan kenaijn produktivitas. Seorang karyawan yang bahagia adalah karyawan yang produktif. Oleh karena itu, fungsi manajemen adalah menjaga agar karyawan terus merasa puas.

Pendekatan hububangan antar manusia sangat menhargai pemimpin demokratis. Pemimpin tipe ini mendorong angotanya untuk berpartisipasi untuk menjalankan organisasi dengan memberikan saran-saran, umpan balik dan menyelesaikan masalah dan  keluhannya sendiri. Semua angota organisasi harus berpartisipasi dalam membuat keputusan yang pada akhirnya mempengaruhi mereka. Komunikas merupakan salah satu alat penting dalam manajeman untuk mencapai hasil yang ingin di capai.

C. Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem merupakan kombinasi dari unsur-unsur terbaik dari pendekatan ilmiah dan pendekatan hubungan antar manusia. Pendekat ini memandang bahwa organisasi adalah suatu sistem dimana semua bagian berintraksi dan mempengaruhi bagian lain. Organisai di pandang sebagai suatu sistem terbuka terhadap informasi, respinsif terhadap lingkungan, dinamis dn selalu berubah.

Pendekatan sistem menganggap bakwa kedua faktor, yaitu faktor fisik dan psikologis sebagai pendekatan ilmiah, dan faktor sosial serta psikologis sebagai pendekatan hubungan antar manusia, dimana setiap faktor mempengaruhi faktor lainnya semua harus dipertimbangkan jika menginginkan organisasi dapat berfungsi dengan baik, komunisasi membuat sistem tersebut vital dan tetap hidup.

D. Pendekatan Budaya

Pendekatan budaya adalah pendekatan konternporer tentang organisasi. Pilotta dkk (1988) menggap bahwa pendekatan budaya harus dipandang sebagai suatu kesatuan sosial dan budaya.

Dalam pendekatan budaya organisasi harus mengidentifikasi jenis kultur, norma-norma atau nilai-nilai yang dianutnya, dimana tujuan dari analisis ini adalah untuk memahami bagaimana organisasi berfungsi, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh anggotanya dalam budaya orgasisasi tersebut.

Dalam pandangan budaya, komunikasi bukan sekedar pesan yang disampaikan dari satu anggota keanggota lainnya, melalui satu atau lebih saluran, namun komunikasi harus dilihat secara integral didalam organisasi.

E. Pendekatan komunikasi sebagai proses pengorganisasian

Pendekatan ini lebih didasarkan pada anggapan yang menyatakan bahwa komunikasi dalam organisasi merupakan proses pengorganisasian, dimana teori pengorganisasian memandang organisasi bukan sebagai suatu struktur atau kesatuan, namun sutau aktivitas, sehingga organisasi merupakan sesuatu yang akan dicapai oleh sekelompok orang melalui proses yang terus menerus dilaksanakan secara berkesinambungan.

Inti dari setiap organisasi adalah suatu cara atau tindakan tertentu sehingga memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya dimana komunikasi memainkan peran didalamnya. Jadi aktivitas organisasi terdiri dari interaksi antar bagian yang ada didalamnya.

Griffin (2003) dalam A First Look at Communication Theory, membahas komunikasi organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu bayaran pada daya produksi, presisi, dan efisiensi,  dimana Griffin menyadur tiga pendekatan untuk membahas komunikasi organisasi. Ketiga pendekatan itu adalah sebagai berikut:

1. Pendekatan sistem. organisasi sebagai kehidupan organis yang harus terus menerus beradaptasi pada suatu perubahan lingkungan untuk mempertahankan hidup. Pengorganisasian merupakan proses memahami informasi yang samar-samar melalui pembuatan, pemilihan, dan penyimpanan informasi. Ia meyakini organisasi akan bertahan dan tumbuh subur hanya ketika anggota-anggotanya mengikutsertakan banyak kebebasan (free-flowing) dan komunikasi interaktif. Untuk itu, ketika dihadapkan pada situasi yang mengacaukan, manajer harus bertumpu pada komunikasi dari pada aturan-aturan.

2. Pendekatan budaya. Asumsi interaksi simbolik mengatakan bahwa manusia bertindak tentang sesuatu berdasarkan pada pemaknaan yang mereka miliki tentang sesuatu itu. para teoris interpretatif menganggap bahwa budaya bukan sesuatu yang dipunyai oleh sebuah organisasi, tetapi budaya adalah sesuatu organisasi. budaya organisasi dihasilkan melalui interaksi dari anggota-anggotanya. Tindakan-tindakan yang berorientasi tugas tidak hanya mencapai sasaran-sasaran jangka pendek namun menciptakan atau memperkuat cara-cara yang lain selain perilaku tugas ”resmi” dari para karyawan, karena aktivitas-aktivitas sehari-hari yang paling membumi juga memberi kontribusi bagi budaya tersebut. Pendekatan ini mengkaji cara individu-individu menggunakan cerita-cerita, ritual, simbol-simbol, dan tipe-tipe aktivitas lainnya untuk memproduksi dan mereproduksi seperangkat pemahaman.

3. Pendekatan kritik. Salah seorang penganut pendekatan ini, menganggap bahwa kepentingan-kepentingan perusahaan sudah mendominasi hampir semua aspek lainnya dalam masyarakat, dan kehidupan kita banyak ditentukan oleh keputusan-keputusan yang dibuat atas kepentingan pengaturan organisasi-organisasi perusahaan, atau manajerialisme. Bahasa adalah medium utama dimana realitas sosial diproduksi dan direproduksi. Manajer dapat menciptakan kesehatan organisasi dan nilai-nilai demokrasi dengan mengkoordinasikan partisipasi stakeholder dalam keputusan-keputusan korporat.

Pustaka

Anonim, 2011. Komunikasi Organisasi .Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Em Griffin, 2003, A First Look at Communication Theory, McGrraw-Hill Companies

BIOEKOLOGI HAMA RUMAH TANGGA

(Periplaneta americana), famili Blattidae, ordo Orthoptera.

BIOLOGI KECOA

Kecoa merupakan serangga dengan bentuk tubuh oval, pipih dorso-ventral. Kepalanya tersembunyi di bawah pronotum, dilengkapi dengan sepasang mata majemuk dan satu mata tunggal, antena panjang, sayap dua pasang, dan tiga pasang kaki. Pronotum dan sayap licin, tidak berambut dan tidak bersisik, berwarna coklat sampai coklat tua. Kecoa merupakan serangga primitif yang keberadaannya diperkirakan telah ada sejak 200 juta tahun yang lalu. Penyebarannya yang luas karena dukungan kemampuan adaptasinya terhadap lingkungan yang sangat tinggi.

Diketahui jumlah spesies kecoak di dunia berkisar kurang lebih 3.500 species, 4 (empat) spesies diantaranya, umum dijumpai pada lingkungan sekitar kita yaitu Periplaneta americana (American Cockroach), Blattela germanica (German Cockroach), Blatta orientalis (Oriental Cockroach), dan Supella langipalpa (Brown Banded Cockroach).

Kecoa adalah serangga dengan metamorfosa tidak lengkap, hanya melalui tiga stadia (tingkatan), yaitu stadium telur, stadium nimfa dan stadium dewasa yang dapat dibedakan jenis jantan dan betinanya.

TELUR

Telur kecoa berada dalam kelompok yang dibungkus oleh selaput keras, kelompok telur kecoa tersebut dikenal sebagai kapsul telur atau (Ootheca). Kapsul telur dihasilkan oleh kecoa betina dan diletakkan pada tempat tersembunyi atau pada sudut-sudut dan pemukaan sekatan kayu hingga menetas. Waktu yang diperlukan oleh kecoak untuk menetas telurnya rata-rata sampai dengan 32 hari.

NIMFA

Dari kapsul telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi nimfa yang hidup bebas dan bergerak aktif. Nimfa yang baru keluar dari kapsul telur berwarna putih seperti butiran beras, kemudian berangsur-angsur berubah menjadi berwarna coklat, Nimfa tersebut berkembang melalui sederetan instar dengan 13 kali i berganti kutikula sehingga mencapai stadium dewasa. perkembangan nimfa setelah menetas berkisar antar 5 sampai 6 bulan hingga menjadi serangga dewasa.

IMAGO

Imago kemudian berkopulasi dan satu minggu kemudian menghasilkan kapsul telur yang pertama sehingga daur hidup P americana memerlukan waktu rata-rata 7 bulan. Seekor P.americana betina dapat menghasilkan telur hingga 86 kapsul telur, dengan selang waktu peletakkan kapsul telur yang satu dengan kapsul telur berikutnya rata-rata 4 hari

Periplanetta americana Linnaeus dewasa dapat dikenal dengan adanya perubahan dari tidak bersayap pada stadium nimfa menjadi bersayap pada stadium dewasanya pada P.Americana yang dewasa terdapat dua pasang sayap baik pada yang jantan maupun betinanya.

EKOLOGI

Banyak spesies kecoa di seluruh dunia, beberapa diantaranya berada di dalam rumah dan sering didapatkan di restoran, hotel, rumah sakit, gudang, kantor dan perpustakaan.

Kecoa kebanyakan terdapat di daerah tropika yang kemudian menyebar ke daerah sub tropika atau sampai kedaerah dingin. Pada umumnya tinggal didalam rumah-rumah makan segala macam bahan, mengotori makanan manusia, berbau tidak sedap. Kebanyakan kecoa dapat terbang, tetapi mereka tergolong pelari cepat (“ cursorial“), dapat bergerak cepat, aktif pada malam hari, metamorfosa tidak lengkap, Kerusakan yang ditimbulkan oleh kecoa relatif sedikit, tetapi adanya kecoa menunjukkan bahwa sanitasi didalam rumah menjadi kurang baik.

Hubungan kecoa dengan berbagai penyakit belum jelas, tetapi menimbulkan gangguan yang cukup serius, karena dapat merusak pakaian, buku-buku dan mencemari makanan. Kemungkinan dapat menularkan penyakit secara mekanik karena pernah ditemukan telur cacing, protozoa, virus dan jamur pathogen pada tubuh kecoa.

DAFTAR PUSTAKA

Soekirno Mardjan, 2003. Produktivitas dan Mortalitas Periplaneta americana di Laboratorium. Jumal Ekologi Kesehatan Vo12 No 3, Desember 2003. Hal 290-298

Colletotrichum gleosporioides (Penz) Penyebap penyakit gugur daun pada tanaman Karet

Salahuddin Adi Kelana, Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

Latar Belakang

Jamur Colletotrichum gleosporioides merupakan salah satu jamur yang menyebapkan penyakit pada beberapa tanaman inang, baik pada fase pembibitan, budidaya dan pada fase pasca panen. Salah satunya penyakit yang disebapkan oleh jamur ini yaitu penyakit gugur daun pada tanaman karet, dan sering dikenal sebagai penyakit gugur Colletotrichum dimana penyakit gugur daun pada tanaman karet merupakan penyakit yang menyebapkan kerugian besar pada perkebunan karet bahkan penyakit ini menyerang secara berkelanjutan dan disebapkan oleh jamur Colletotrichum gleosporioides (Penz).

Biologi Jamur
Adapun klasifikasi jamur Colletotrichum gleosporioides (Penz) menurut Dwidjoseputra pada tahun (1978), adalah sebagai berikut:
Divisi : Mycota
Kelas : Deuteromyces
Ordo : Melanconiales
Famili : Melanconiaceae
Genus : Colletotrichum
Spesies : Colletotrichum gleosporioides
C. gleosporioides umumnya memiliki konidium hialin yang berbentuk silinder dengan ujung-ujung yang tumpul, kadang-kadang berbentuk agak jorong dengan ujung yang agak membulat, dan pangkal yang ajak terpancung, tidak bersekat, berinti satu, panjang sel antara 9-24 X 3-6 μm, terbentuk pada konidiofor seperti fiadid berbentuk silinder, hialin berwarna agak kecoklatan. Serta memiliki konidiofor yang pendek dan beregresi (berkumpul) pada permukaan yang tipis dari perenkhimoid dan stroma, (Semangun, 2000). C. gloeoeosporioides termasuk parasit fakultatif, dimana jamur ini memproduksi hialin, dan menyebapkan penyakit pada beberapa tanaman dengan cara melemahkan inang dengan menyerap makanan secara terus menerus dari sel tanaman inang, guna kebutuhannya, enzim atau zat pengatur tumbuh yang disekresikan oleh jamur C. Gloeoeosporioides, menghambat terjadinya transportasi makanan, hara mineral, dan air yang melalui jaringan pengangkut pada tanaman inang setelah terjadinya kontak (Agrios, 1996).
Dalam kombinasi inang jamur dapan memproduksi toksin spesifik, yaitu toksin yang bertanggung jawab terhadap gejala yang terjadi, dan beberapa ahli menduga bahwa terjadi reaksi terhadap reseptor spesifik atau sisi sensitif dalam sel inang. Dimana hanya tanaman yang memiliki reseptor sensitif atau sisi sensitif semacam ini yang mudah diserang oleh jamur dan menjadi sakit, Spesies atau Varietas tanaman yang tidak memiliki reseptor sensitif semacam ini akan tetap tahan terhadap serangan jamur C. gloeoeosporioides (Abadi, 2003).

Ekologi

Dalam cuaca yang lembap dengan massa spora yang lunak menyebapkan spora mudah tersebar hinggga jarak yang sangat jauh dengan bantuan angin dan aliran air, diketahui pada daerah perkebunan karet di dataran tinggi atau daerah perkebunan yang memiliki tingkat curah hujan yang tinggi dan memiliki tingkat kelembapan yang tinggi merupakan kondisi lingkunyan yang sangat disukai oleh jamur C. gloeoeosporioides sehingga serangan yang ditimbulkan oleh jamur ini meningkat tajam, selain itu jarak tanam yang terlalu rapat, daerah perkebunan yang terletak di lembah, di rawa-rawa atau daerah yang populasi gulmanya tidak dikendalikan termasuk lingkungan yang disenangi oleh jamur C. gloeoeosporioides (Basuki, 1990).
Colletotrichum merupakan jamur yang bersifat kosmopolitan, sehingga jamur ini dapat menyebapkan penyakit pada beberapa jenis tanaman termasuk tanaman karet serta menyebapkan penyakit pasca panen dan pada benih, Colletotrichum dapan berspora pada suhu 10-40 0C. Selain itu sinar Ultra violet berpengaruh dalam mengaktifkan spora, perkembangan spora juga dapat terjadi pada kelembapan relatif ddegan kisaran 90% dan suhu berkisar antara 15-35 0C, walaupun kelembapan relatif jamur ini berkisar 90%. Spora Colletotrichum juga dapat bertahan pada kisaran suhu diatas 35 oC, kondisi ini yang mendukung perkembangan penyakit pada tanaman karet di Sri Langka, yang terjadi di luar musim hujan (Google. 2010).
Pada umumnya C. gloeoeosporioides merupan jamur yang umum dan terdapat diberbagai macam tanaman sehingga sumber infeksi jamur ini dapat terjadi dengan mudah, jamur disebarkan oleh spora (konidium), dan mudah tersebar oleh percikan air hujan dan oleh aliran udara yang lembap serta dapatdisebarkan oleh serangga vektor (Semangun, 2000).

Morfologi Jamur

Jamur C. gloeoeosporioides memiliki konidium yang membentuk buluh kecambah membentuk apresorium pada ujung. Penetrasi terjadi secara langsung dengan menembus kutikula, merusak dinding sel dan benang-benang jamur berkembang di dalam dan di anara sel-sel. Pada awalnya kloroplas rusak dan diikuti dengan rusaknya mitikondria, selama proses infeksi patogen melepaskan enzim poligalakturonase, selulase, dan toksin (semangun, 2000). Dimana spora jamur C. gloeoeosporioides hanya dapat berkecambah bila ada iar bebas, atau bila kelembapan nisbi udara kurang dari 96%, spora tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25 0 – 28 0C.

Pengendalian

Dalam melakukan pengendalian jamur C. gloeoeosporioides sebagai penyebap penyakit dapat dillakukan dengan cara :
– memperbaiki saluran pembuangan air dan drainase, memberantas gulma secara intensuf, dan pemangkasan cabang dan ranting tanaman yang tidak berguna dan yang ducurigai atau telah terinfeksi penyakit, serta mengatur jarak tanam agar mengurang kelembapan pada daerah perkebunan.
– Menggunakan varietas yang tahan terhadap serangan jamur C. gloeoeosporioides
– Pemberian pupuk yang berimbang, sehinggga kebutuhan unsur hara tanaman dapat terpenuhi dan dapat menyehatkan tanaman sehingga daya tahan tanaman terhadap gangguan jamur C. gloeoeosporioides dapat meningkat.
– Menggunakan Bioagensia pengendali hayati yaitu bakteri antagonis dalam menelan populasi jamur C. gloeoeosporioides.
DAFTAR PUSTAKA

Abadi, A.L, 2003. Ilmu Penyakit Tumbuhan I, bayu media . Malang .

Agrios, G.N, 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan, diterjemahkan oleh Busnia M, UGM Press, Yogyakarta.

Basuki, 1990. Penyakit Gugur Daun Colletotrichum pada Tanaman Karet, Pusat Penelitian Perkebunan Tanjung Mirawa (P4TM).

Dwijoseputro. Prof.D.S, 1978. Pengantar Mikologi, Alumni. Bandung.

Semangun, H .2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. UGM Prees, Yogyakarata.
WWW.google.com/search/Ekologi_jamur_Colletotrichum_gloeoeosporioides. Di download tanggal 5 Mei 2010.